Kamis, 17 Januari 2013

ROMUSHA DI BAYAH KABUPATEN LEBAK PROVINSI BANTEN



BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang Masalah


.Sebagai Negara fasis-militerisme di Asia,jepang sangat kuat,sehingga meresahkan kaum pergerakan  nasional di Indonesia.Dengan pecahnya perang dunia II Jepang terjun dalam kancah peperangan itu. Disamping itu,terdapat dugaan bahwa suatu saat akan terjadi peperangan di lautan pasifik. Hal ini didasarkan pada suatu analisis politik. Sedangkan sifat pergerakan politik bangsa Indonesia dengan tegas menentang dan menolak bahwa fasisme sedang mengancam dari arah utara. Sikap ini dinyatakan dengan jelas oleh gabungan politik Indonesia ( GAPI ) .

Angkatan perang jepang begitu kuat, sehingga Hindia Belanda yang merupakan benteng kebanggaan Inggris di Asia Tenggara akhirnya jatuh ketangan pasukan Jepang. Peperangan yang di lakukan oleh Jepang di Asia Tenggara dan di lautan pasifik ini di beri nama perang Asia Timur Raya atau perang Pasifik.

Secara kronologis serangan-serangan pasukan Jepang di Indonesia adalah sebagai berikut: Diawali dengan menduduki tarakan (10 Januari 1942 ), kemudian Minahasa,Sulawesi,Balik Papan,Ambon. Kemudian pada bulan pebruari 1942 pasukan Jepang menduduki Pontianak, Makasar, Banjarmasin, Palembang,dan Bali.

Kemudian pasukan Jepang melakukan serangan di Jawa dengan mendarat di daerah Banten, Indramayu, kragan ( antara Rembang dan Tuban ) selanjutnya menyerang pusat kekusaan Belanda di Batavia ( 5 Maret 1943 ), Bandung ( 8 maret 1942 ) dan akhirnya pasukan Belanda di Jawa menyerah kepada panglima bala tentara Jepang Imamura di kalijati ( Subang,8 maret 1942 ). Dengan demikian,seluruh wilayah Indonesia menjadi bagian dari kekuasaan penjajahan Jepang.

Dari peristiwa diatas, penulis mencoba melalukan penelitian mengenai peninggalan – peninggalan jepang yang dapat ditemuan pada saat ini dan melakukan penelitian dengan cara wawancara dengan romusha di daerah Bayah yang sampai sekarang masih hidup dan dari mereka penulis mendapatkan sejarah yang asli dari sumber sejarah yang hidup di daerah Bayah tepatnya Pulo manuk .

1.2   Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, permasalahn – permasalahan yang muncul yaitu sebagai berikut :
1.      Apa yang dimaksud dengan Romusha ?
2.      Siapakah  dan dari manakah Romusha itu ?
3.      Bagaimana cara terbentuknya Romusha ?
4.      Apa sajakah peninggalan Romusha yang berbentuk artefak di Bayah ?
5.      Bagaimanakah kehidupan romusha dibayah  daerah pulomanuk sekarang ?

1.3  Rumusan Masalah

Untuk mempermudah penulis dalam melakukan penelitian dan memfokuskan pada hal yang menjadi tujuan, maka penulis membatasi dan merumuskan masalah yaitu :
1. Bagaimanakah peninggalan – peninggalan sejarah pada jaman penjajahan jepang yang dapat ditemukan sekarang di daerah Bayah?
2. Siapakah dan bagaimanakah kehidupan romusha yang ada di Bayah pada jaman dulu dan sekarang?


1.4   Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peninggalan – peninggalan sejarah dan  kehidupan Romusha yang ada di Bayah kabupaten Lebak Banten Selatan.


1.5  Manfaat Penelitian     
  
1.      Bagi penulis, dapat menambah wawasan tentang peninggalan sejarah dan Romusha di Bayah
2.      Membantu masyarakat  dalam memberikan pengetahuan tentang peninggalan sejarah dan Romusha di Bayaah
3.      Memberikan gambaran kehidupan romusha di Bayah pada jaman dulu dan sekarang.







































BAB II
KAJIAN PUSTAKA



2.1. Penjajah Jepang di Indonesia

Bala Tentara Nippon adalah sebutan resmi pemerintahan militer pada masa pemerintahan jepang.Menurut UUD No.1(7 Maret 1942),Pembesar tentara Nippon memegang kekuasaan militer dan segala kekuasaan yang dulu di pegang oleh gubernur jenderal (pada masa kekuasaan Belanda).

 Dalam pelaksanaan system pemerintahan ini,kekuasaan atas wilayah Indonesia di pegang oleh dua angkatan perang yaitu angkatan darat (Rikugun) dan angkatan laut (kaigun) . masing-masing angkatan mempunyai wilayah kekuasaan.Dalam hal ini Indonesia di bagi menjadi tiga wilayah kekuasaan yaitu:
a.             Daerah jawa dan Madura dengan pusatnya Batavia berada dibawah kekuasaan Rikugun.
b.            Daerah sumatera dan semenanjung tanah melayu dengan pusatnya singapura berda di bawah kekuasaan Rikugun.Daerah sumatera di pisahkan pada tahun 1943,tapi masih berada di bawah kekuasaan Rikugun.
c.             Daerah Kalimantan,sulawesi,nusatenggara,maluku,irian berada di bawah kekuasaan kaigun.

2.2. Organisasi Bentukan Jepang

Untuk menarik simpati bangsa Indonesia maka di bentuklah organisasi resmi seperti gerakan Titga A, Putera dan PETA. Gerakan tiga A gerakan ini disebut dengan gerakan tiga A karena somboyannya adalah Nippon pelindung asia, Nippon cahaya asia, Nippon pemimpin asia. Pada tahun 1943 geakan tiga A dibubarkan dan diganti dengan Putera.



 
Pusat tenaga rakyat (Putera) organisasi ini di bentuk pada tahun 1943 di bawah pimpinan “Empat Serangkai”, yaitu Bung Karno,Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara, kiyai Haji Mas Mansyur.
Pembela tanah air (PETA). PETA merupakan sebuah organisasi bentukan jepang dengan keanggotaannya terdiri dari pemuda-pemuda Indonesia.Dalam organisasi PETA ini para pemuda bangsa Indonesia dididik atau mendapatkan latihan kemiliteran dari pasukan jepang

2.3   Dampak Pendudukan Jepang Bagi Bangsa Indonesia

Bidang politik sejak masuknya kekuasaan Jepang di Indonesia, organisasi-organisasi politik tidak dapat berkembang lagi. Bahkan pemeritah pendudukan jepang menghapuskan segala bentuk kegiatan organisasi-organisasi, baik yang bersifat politik maupun yang bersifat social, ekonomi, dan agama. Organisasi itu di hapuskan dan diganti dengan organisasi buatan Jepang sehingga kehidupan politik pada masa itu diatur oleh pemerintah Jepang, walaupun masih terdapat beberapa organisasi politik yang terus berjuang menentang pendudukan Jepang di Indonesia.

Bidang  ekonomi pendudukan bangsa Jepang atas wilayah Indonesia sebagai negara imperialism, tidak jauh berebeda dengan negara-negara imperialisme lainnya.Kedatangan bangsa Jepang ke Indonesia berlatar belakang mawsalah ekonomi, yaitu mencari daerah-daerah sebagai penghasil bahan mentah dan bahan baku untuk memenuhi kebutuhan industrinya dan mencari tempat pemasaran hasil-hasil industrinya sehingga aktivitas perekonomian bangsa Indonesia pada zaman Jepang sepenuhnya dipegang oleh penerintah Jepang.
          
                                                                                                                    








BAB III
PEMBAHASAN


3.1. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian  dilakukan di Bayah dan Pulo manuk  laksanakan dari tanggal 16 Mei sampai19 April  2010 yang meliputi tahap persiapan, tahap pengumpulan data di lapangan dan penyusunan dalam bentuk laporan karya tulis.

3.2. Metode Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data-data hasil penelitian dengan beberapa cara.
1.      Eksperimen yaitu peneliti mendapatkan informasi lansung melihat data yang berbentuk peninggalan sejarah (Artefak)
2.      Wawancara langsung dengan Romusha dan masyarakat sekitar kampung Romusha
3.      Studi Pustaka, ialah mencari dan mengumpulkan sumber-sumber termasuk teori-teori yang berkaitan dengan peneltian ini.

3.3. Pembahasan

3.3.1   Pengertian Romusha.
Romusha dapat diartikan sebagai:
ü  Buruh kerja
ü  Serdadu kerja
ü  Kuli/ tenaga kerja
ü  Tenaga kerja paksa
ü  Praurit pekerja
ü  Seorang pekerja yang melakukan sebagai buruh kasar
Usia romusha paling muda 11-13 tahun dan paling tua 30 tahun, Jepang masuk ke Indonesia pada tahun 1942 , dengan menyamar sebagai orang – orang yang akan membantu Indonesia untuk bebas dari penjajahan Hindia – Belanda dan berjanji akan membantu Indonesia untuk segera merdeka. Namun ternyata Jepang masuk ke Indonesia untuk menguasai wilayah Indonesia yang kaya dengan SDA , karena Indonesia adalah negara yang sangat kaya khususnya batu bara untuk penindustrian Jepang.

Kemudian setelah Jepang menguasai Indonesia , mereka membentuk pekerja paksa yang disebut dengan Romusha . Romusha adalah panggilan bagi orang – orang yang dipekerjakan secara paksa pada masa penjajahan Jepang di Indonesia dari tahun 1942 – 1945 . Kebanyakan romusha adalah petani , pada tahun 1943 pihak Jepang mewajibkan para petani menjadi romusha . Sebagian besar romusha berasal dari pulau Jawa khususnya Jawa Tengan dan Jawa Timur , karena pulau Jawa merupakan pulau yang banyak penduduknya .

Jepang membawa romusha ke daerah Bayah dengan cara memaksa . Para Romusha itu dibawa dengan menggunakan mobil sam, mata dengan keadaan tertutup, Jepang menganggap dengan cara ini para romusha yang berasal dari pulau Jawa tersebut tidak mengenali jalan yang mereka lewati. Jepang mulai membuka tutup matanya setelah romusha sampai ke Bayah, para romusha yang dikirim ke Bayah akan dipekerjakan untuk menggali batu bara, dan juga untuk pembuatan rel Kereta Api dan Jembatan. Jepang menjanjikan para Romusha dipekerjakan hanya selama 100 hari, jika sudah 100 hari maka mereka mereka akan dikembalikan ke daerah masing – masing. Namun itu hanya bualan belaka, para Romusha dipekerjakan selamanya di Bayah tersebut.

Menurut Mbah Yatin bin Mentokaryo, salah satu Romusha yang masih hidup. Bahwa pada tanggal 6 Agustus 1942 berangkat ke Banten, di alun – alun Purwerejo, tiap tiga bulan kembali ke kampung masing–masing, jumlah romusha 2421 ( yang berangkat ). Dan masing–masing dibagi lokasi pekerjaan. Dalam satu bedeng terdiri dari empat mandor. Setiap pagi parar romusha mengambil 15 kayu untuk dinding lobang, kemudian masuk lobang untuk mengambil batu bara. Kemudian masuk gunung ambil arang. Dalam bekerja 6 bulan tidak digaji dan tidak ada jaminan. Ada yang jadi petani garam, kerja nyangkul, perkebunan, jualan kayu bakar, dan lain– ain. Dan pada tahun 1948 ada serangan Belanda di Rangkasbitung.

3.3.2  Peninggalan – Peninggalan Sejarah (Artefak)

a. Artefak pertama

Dari penelitian ini kami menemukan beberapa artefak yang dibangun oleh para Romusha pada zaman pemerintahan Jepang, diantaranya yang pertama yaitu Rel Kereta Api dengan jurusan Bayah – Saketi di Cisaweuy. Rel Kereta Api ini dibangun pada tahun 1942 – 1943, dan sampai sekarang usianya yaitu 67 tahun. Namun bekas bangunannya masih terlihat sangat kuat dan masih kokoh, padahal pembangunannya tidak menggunakan bata maupun bahan–bahan bangunan lainnya, melainkan yang digunakannya yaitu batu–batu dari dasar laut, sehingga bangunannya sampai sekarang masih kokoh.









Gambar 1.Rel kereta Api peninggalan Romusha
Diatas merupakan jalur Kereta yang pertama yang berada di Cisaweuy,di bangunan tersebut tampak ada dua lubangan dibawahnya, hal ini dimaksudkan supaya dapat menahan arus air, karena pembangunannya berada di atas air sungai.
Setelah di identifikasi ( diraba dan dilihat ) struktur jembatan ini berbeda dengan jembatan yang sekarang. Hal ini, membuktikan bahwa pembangunan jembatan ini lebih menitik beratkan kepada fungsinya.

b. Artefak ke-dua

Pada artefak yang kedua kami juga menemukan bangunan terusan yang pertama yaitu terusan jalur Rel Kereta Api, bangunannya hampir sama namun yang membedakan dibangunan artefak yang kedua ini ada sebuah jembatan yang sangat kuat, pembangunannya pun sama dengan pembangunan yang pertama yaitu dengan menggunakan batu – batuan dari dasar laut.
Gambar artefak yang kedua







Gambar 2.Jembatan Peninggalan Romuha

Dari gambar artefak tersebut, terlihat bahwa jembatan tersebut berada diatas aliran air sungai dan diatasnya adalah lautan. Namun jembatan yang merupakan jalur terusan dari artefak pertama ini untuk tujuan Bayah – Saketi terlihat tidak tersambung lagi, ini diakibatkan karena usia pembangunannya yang sudah sangat lama.

c. Artefak ke-tiga
Pada artefak yang ketiga tepatnya di Cihara terdapat sasiun Rel kereta api yang merupakan pusat dari artefak pertama dan kedua, disana terdapat dua jalur Rel kereta yang ukurannya sama besar, disana juga terdapat sumur yang berfungsi sebagai sumber air minum kereta, kira-kira ukuran diameternya 2,5m, dan dalamnya 1,5m.
Di bawah ini terdapat gambar Rel kereta api dan sumur air minum kereta.

 


 

            Gambar 3.Bekas Stasiun Rel Kereta         Gambar 4.Double Track Rel Kereta
Disana tampak bangunanya sudah tidak berbentuk, ini diakibatkan karena tidak adanya pemeliharaan dari pemerintah maupun masyarakat setempat.
 







Gambar 5.Sumur Air Minum Kereta Api

Disana tidak tampak seperti sumur pada umumnya. Sumur ini dijadikan sebagai air minum kereta karena didalam rel kereta api terdapat ketel yang bila dipanaskan akan mengandng uap yang akan menggerakan turmin, sehingga kereta baru bisa jalan.
Dan kami juga menemukan sebuah tugu yang disebut dengan tugu romusha. Yang di bawahnya terdapat mayat-mayat romusha pada jaman pemerintahan Jepang yang dibangun pada tahun 1946.

d.Tugu Romusha
 





              
                       Gambar 6.Tugu Romusha
Fungsi tugu romusha yaitu sebagai berikut:
1.      Peringatan terhadap peran Romusha di Bayah.
2.      Peringatan terhadap pemakaman para romusha
3.      Tempat dziarah bagi keluarga Romusha

e. Romusha di Pulau Manuk.

Terbentuknya kampung pulau manuk diakibatkan karena para romusha yang tidak bisa kembali pulang ke kampumgnya maka mereka diberikan kebijakan oleh pemerintah untuk mengisi dan menjadikan kampung pulau manuk menjadi kampung romusha.

Menurut ibu karsiem, putri dari bapak Dul kadir zailani yang merupakan nara sumber romusha yang sangat terkenal “Dulu pulau manuk dibuka oleh orang sunda teeapi tidak bisa, selain oleh orang jawa dan akhirnya orang sunda numpang ke orang jawa”
Bahasa yang digunakan yaitu bahasa sunda, jawa, ngapak, dan melayu. Dan keseniannya berupa ketoprak, dan kuda lumping yang di mainkan oleh orang solo (jateng).































BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN


4.1               Simpulan

Romusha adalah panggilan bagi orang – orang yang dipekerjakan secara paksa pada masa penjajahan Jepang di Indonesia dari tahun 1942 – 1945 . Kebanyakan romusha adalah petani , pada tahun 1943 pihak Jepang mewajibkan para petani menjadi romusha . Sebagian besar romusha berasal dari pulau Jawa khususnya Jawa Tengan dan Jawa Timur , karena pulau Jawa merupakan pulau yang banyak penduduknya .

Jepang membawa romusha ke daerah Bayah dengan cara memaksa . Para Romusha itu dibawa dengan menggunakan mobil.  Mata dengan keadaan tertutup, Jepang menganggap dengan cara ini para romusha yang berasal dari pulau Jawa tersebut tidak mengenali jalan yang mereka lewati. Jepang mulai membuka tutup matanya setelah romusha sampai ke Bayah, para romusha yang dikirim ke Bayah akan dipekerjakan untuk menggali batu bara, dan juga untuk pembuatan rel Kereta Api dan Jembatan. Jepang menjanjikan para Romusha dipekerjakan hanya selama 100 hari, jika sudah 100 hari maka mereka mereka akan dikembalikan ke daerah masing – masing. Namun itu hanya bualan belaka, para Romusha dipekerjakan selamanya di Bayah tersebut. Dan sampai sekarang masih ada romusha di Bayah mereka sudah berkeluarga bahkan sebagian sudah meninggal. Kehidupan mereka pun sederhana, ada dari mereka yang mencari nafkah dari perkebunan karet di Bayah.

     
4.2     Saran

Banyak ditemukannya peninggalan – peninggalan sejarah ( Artefak) sampai saat ini. Oleh karena itu, sebaiknya artefak –artefak itu kita pelihara sebagai media pembelajaran otentik dari sejarah.


 
Romusha di Bayah memberikan gambaran kehidupan dulu pada jaman jepang di Bayah, sampai saat ini Romusha masih ada di Bayah. Ini membuktikan bahwa pada jaman dulu itu ada kejadian yang dilakukan jepang kepada orang – orang Indonesia, dengan masih adanya Romusha di Bayah yang hidup dengan kesederhanaan dapat dijadikan nara sumber sejarah yang asli.








 







































DAFTAR PUSTAKA



Marwati D, Nugroho N. 1993.Sejaraah Nasionaal Indonesia. Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan. Balai Pustaka. Yogyakarta

Pemerintah Kabupaten Lebak.2008. Panduan Penelitian Bagi Remaja. Dinas Pemuda dan Olahraga. DKI Jakarta

Pemerintah Propinsi DKI Jakarta .2003. Panduan Pembinaan dan Lomba Penelitian Karya Imiah Remaja SMP/MTs/SMA/MA. Lebak


































 





 




















 



























                                    LAMPIRAN
























  
   
   
      
                                  
       

0 komentar:

Poskan Komentar